08117992581

Sampah Kita, Beban Siapa?

$rows[judul]

Harusnya, justru ini menjadi titik balik bagi Kota Metro untuk mengawali era baru pengelolaan sampah. Sebab, pertanyaannya sederhana, sampah kita, menjadi beban siapa?

Siapa, lo, yang mau daerahnya menjadi tempat buangan sampah seluruh Kota Metro? Wajarlah kalau warga sekitar TPAS Karangrejo Metro, Lampung, demo dan menghentikan aktivitas pembuangan sampah di wilayah mereka.

Saya gak sedang ngegongin mereka yang sedang demo penutupan TPAS. Saya hanya mencoba berpikir jernih saja. Warga mana yang mau daerahnya justru menjadi penanggung jawab sampah seluruh warga kota?

Sampah-sampah siapa, e, yang kena imbasnya hanya mereka, warga masyarakat yang berada di sekitar TPAS saja.

Padahal, yang buang sampah se-Kota Metro. Yang harus menghadapi dampak keberadaan TPAS, termasuk persoalan air lindi dan kualitas lingkungan di sekitarnya, ya mereka yang tinggal di sekitar TPAS. Yang lain? Ya, mana kena imbasnya. Kasian, ya.


Semua Bergerak

Yang salah sebenarnya kita. Tapi pemerintah juga punya andil besar dalam pengelolaan sampah ini.

Lo kok kita? Iya lah. Kita sering kali cuci tangan dengan masalah sampah kita sendiri. Kita gak mandiri. Bergantung kepada orang lain. Merasa sampah kita bukan tanggung jawab kita.

Akhirnya, kita dengan seenaknya membuang sampah sembarangan, atau sekadar mengumpulkannya campur aduk di karung yang nantinya diambil petugas, dimasukkan ke truk sampah, lalu dibawa ke TPAS.

Begitu TPAS Karangrejo ditutup warga selama hampir sepekan, baru kelihatan betapa bergantungnya kita pada sistem seperti itu. Sampah menumpuk di sejumlah rumah dan titik layanan yang terdampak penghentian pengangkutan. 

Pemerintah pun harus mencari jalan keluar melalui komunikasi dan musyawarah dengan warga. 

Sampai akhirnya, pada 21 Agustus 2026, akses TPAS kembali dibuka setelah pemerintah dan warga mencapai kesepakatan.

Yang saya heran, kok bisa-bisanya kita bingung dengan sampah kita sendiri, ya?

Mungkin karena sudah terlalu lama kita menganggap bahwa setelah sampah keluar dari rumah, urusannya selesai. Padahal, petugas dan dinas yang mengurusi persampahan hanya membantu memindahkan dan mengelola sampah tersebut. Mereka tidak bisa menghapus tanggung jawab kita terhadap sampah yang kita hasilkan. Kita hanya mengalihkan sampah dari rumah ke tempat pemrosesan akhir.

Plastik yang satu tahun lalu kita buang, lalu kita masukkan ke dalam karung untuk dibawa ke TPAS, tidak serta-merta hilang. Banyak jenis plastik membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai. Begitu juga dengan sisa nasi, sisa sayur, dan sisa buah yang kita buang. Sampah organik yang menumpuk dan mengalami proses penguraian dapat menghasilkan air lindi. Dalam kondisi minim oksigen, proses penguraian juga dapat menghasilkan gas metana.

Nah, kalau begitu, kenapa tidak kita mulai dari sumbernya?

Tidak semua sampah harus berakhir di TPAS. Yang paling mudah kita mulai dari rumah adalah memilah dan mengelola sampah organik. Sampah organik, seperti sisa makanan dan sampah dari tumbuh-tumbuhan, relatif lebih mudah terurai dibandingkan banyak jenis sampah anorganik. 

Kalau dikelola dengan baik, sampah ini bisa menjadi kompos atau dimanfaatkan untuk kebutuhan lain yang sesuai.

Misalnya, sebagian jenis sisa pangan yang aman dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak setelah dipilah dan diolah dengan tepat.  Kalau memang punya ayam, kambing, atau ternak lain dan jenis sampahnya sesuai, ya bisa dimanfaatkan. Atau kalau terlalu mager untuk mengolahnya menjadi pakan, kita bisa membuat kompos. Gak perlu langsung punya alat canggih. Pengomposan bisa dimulai dari rumah dengan cara sederhana. Gak perlu juga kita berandai-andai punya maggot kalau memang belum siap mengelolanya. Yang penting, kita mulai mengurangi sampah organik yang berakhir di TPAS.

Saya berbicara masalah sampah rumah tangga, ya. Sebab, perubahan paling sederhana memang bisa dimulai dari sumbernya, rumah kita sendiri.

Bayangkan saja ketika semakin banyak rumah tangga mampu mengurangi dan mengolah sampah organiknya sendiri. Beban pengangkutan berkurang. Sampah yang masuk ke TPAS pun berkurang. Tapi tentu saja, persoalan sampah tidak selesai hanya dengan mengurus sampah organik.

PR berikutnya adalah sampah anorganik, terutama plastik bekas kemasan makanan, minuman, atau pembungkus barang. Di rumah pun, ini yang jadi PR saya. Kalau dibiarkan begitu saja, rumah dan halaman jadi kotor. Kalau dibakar, malah berpotensi menambah polusi.

Nah, di sinilah pemerintah punya pekerjaan besar. Rumah tangga bisa mulai dari memilah dan mengurangi sampah. Tetapi pemerintah tetap harus menyediakan sistem, edukasi, fasilitas pengolahan, bank sampah, TPS3R, pengangkutan yang baik, sampai memastikan TPAS dikelola dengan benar. Jadi, jangan semuanya dibebankan kepada rumah tangga. Tapi jangan semuanya juga diserahkan kepada pemerintah.

Dalam persoalan TPAS Karangrejo ini, saya kira justru itu yang harus kita pelajari. Warga sekitar TPAS tidak seharusnya menjadi satu-satunya pihak yang menanggung dampak dari sampah seluruh kota. Tapi warga Kota Metro juga tidak bisa terus merasa bahwa setelah sampah diambil petugas, urusannya selesai. 

Tidak begitu. Sampah kita tetap sampah kita. Kita yang menghasilkan. Kita yang harus ikut mengurangi dan memilah dari sumbernya. 

Pemerintah yang membangun sistem pengelolaannya. Dan masyarakat sekitar TPAS juga harus dilibatkan dalam pengelolaan yang adil dan berkelanjutan.

Semua bergerak. Kalau hanya warga yang bergerak, gak cukup. Kalau hanya pemerintah yang bergerak, juga gak cukup.

Kalau hanya warga sekitar TPAS yang disuruh menerima dampaknya, ya jelas gak adil. Karena pada akhirnya, sampah Kota Metro adalah persoalan kita bersama.


Tanggung Jawab Kita

Saya tidak hanya berteori. Sejak awal berumah tangga sampai sekarang, saya tak pernah berlangganan layanan pengangkutan sampah untuk kemudian sampah dari rumah saya diambil petugas dan dibuang ke TPAS. Di rumah, saya menyediakan dua tempat sampah. Sampah organik dan anorganik saya pisahkan. Sampah organik biasanya saya manfaatkan untuk pakan ayam atau kambing. Kalau tidak memungkinkan, saya kelola dengan cara lain yang sesuai.

Gak ada yang istimewa sebenarnya. Saya hanya membiasakan diri untuk tidak langsung menyerahkan semua sampah kepada orang lain.

Dari kebiasaan kecil seperti itulah saya belajar bahwa mengelola sampah tidak selalu serumit yang kita bayangkan. Karena itu, saya mengimbau kepada warga Kota Metro khususnya, dan juga kepada rekan pembaca, mulailah mengelola sampah dari rumah semampu kita.

Yang paling sulit sebenarnya bukan teknologinya. Bukan pula alatnya. Yang paling sulit adalah menahan ego diri sendiri untuk tidak menganggap bahwa setelah sampah keluar dari rumah, urusannya juga ikut selesai.

Padahal tidak. Sampah yang kita buang tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat.

Jangan sampai kenyamanan kita hari ini justru menjadi ketidaknyamanan orang lain. Jangan sampai sampah yang kita hasilkan sendiri menjadi semacam dosa jariyah karena terus meninggalkan jejak buruk bagi alam dan makhluk hidup lainnya.

Kelola sampah kita semampu kita. Jangan sampai beban yang kita hasilkan justru harus ditanggung orang lain.

Karena pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan hanya soal membuang sampah pada tempatnya. Tetapi tentang berani bertanggung jawab atas sampah yang kita ciptakan sendiri.


Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Sampah Kita, Beban Siapa?" yang ditulis oleh Junjung Widagdo pada 24 Agustus 2026 pukul 22.02 WIB.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)