Keterangan Gambar : Alicia Vikander, Na Hong-jin, Taylor Russell, dan Michael Fassbender berpose saat sesi foto film "Hope" di Festival Film Cannes ke-79 di Palais des Festivals pada 18 Mei 2026 di Cannes, Prancis. foto/imdb
Kota Metro, A1BOS.COM - Ada alasan untuk memberi perhatian lebih pada Hope. Film terbaru Na Hong-jin ini tidak lagi bergerak di wilayah thriller kriminal seperti The Chaser atau horor misterius The Wailing.
Kali ini, sang sutradara membawa sebuah desa terpencil di Korea Selatan ke dalam cerita fiksi ilmiah tentang makhluk misterius, perburuan, dan ancaman berskala jauh lebih besar.
Hope dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 9 September 2026. Film berdurasi sekitar 156 menit ini diproduksi Forged Films dan menjadi karya layar lebar pertama Na Hong-jin dalam satu dekade setelah The Wailing. Di Korea Selatan, film tersebut sudah dirilis pada 15 Juli 2026.
Cerita bermula di Hopo Port, desa pelabuhan terpencil yang berada di dekat kawasan DMZ Korea. Kebakaran hutan membuat wilayah tersebut terisolasi. Komunikasi dengan dunia luar terputus ketika warga mulai berhadapan dengan kemunculan sesuatu yang tidak mereka pahami.
Kepala pos polisi Bum-seok, diperankan Hwang Jung-min, berusaha melindungi warga bersama petugas muda Sung-ae yang dimainkan Hoyeon. Di sisi lain, Sung-ki (Zo In-sung) memimpin kelompok pemburu menuju pegunungan untuk mencari makhluk yang mereka kira sebagai ancaman biasa.
Na Hong-jin tidak langsung membuka seluruh bentuk ancaman tersebut. Informasi datang sedikit demi sedikit, sementara para karakter mengambil keputusan berdasarkan apa yang mereka yakini. Dari sinilah cerita yang semula terasa seperti misteri lokal berkembang menjadi konflik fiksi ilmiah dengan skala yang lebih besar.
Nama Na Hong-jin selama ini lekat dengan thriller dan horor yang menempatkan manusia dalam situasi penuh ketidakpastian. Hope memperlihatkan keberanian untuk memperlebar medan permainan.
Film ini masuk kompetisi utama Festival Film Cannes 2026. Sinematografinya ditangani Hong Kyung-pyo, sementara musik digarap Michael Abels, komposer yang dikenal lewat Get Out dan Us.
Perubahan skala itu terasa penting. Hope tidak hanya mengandalkan suasana gelap atau permainan psikologis antarkarakter. Ada desa, hutan, kelompok pemburu, makhluk asing, kebakaran, hingga situasi yang perlahan berubah menjadi kekacauan.
Jajaran pemain Korea menjadi salah satu kekuatan utama film ini. Hwang Jung-min kembali bekerja bersama Na Hong-jin setelah The Wailing. Zo In-sung tampil sebagai Sung-ki, sedangkan Hoyeon memainkan Sung-ae.
Kehadiran Hoyeon juga memberi warna berbeda. Setelah dikenal luas melalui Squid Game, ia kali ini masuk ke film fiksi ilmiah berskala besar bersama aktor seperti Hwang Jung-min dan Zo In-sung.
Lalu ada nama-nama Hollywood: Michael Fassbender, Alicia Vikander, Taylor Russell, dan Cameron Britton. Mereka bukan sekadar tempelan nama internasional. Beberapa karakter alien dalam film ini diperankan menggunakan teknologi motion capture.
Fassbender dan Vikander khususnya membuat Hope terasa seperti pertemuan dua dunia perfilman: sinema genre Korea yang dikenal berani dan produksi fiksi ilmiah dengan pemain Hollywood.
Premis Hope memang mudah dijual sebagai film tentang manusia menghadapi makhluk asing. Namun materi resmi Cannes justru menekankan persoalan yang muncul dari ketidaktahuan dan kesalahpahaman.
Warga melihat ancaman dari sudut pandang mereka. Kelompok pemburu memiliki cara sendiri untuk menghadapinya. Polisi berusaha menjaga warga yang tersisa. Ketika informasi terbatas, keputusan pun dibuat berdasarkan dugaan.
Di titik itu, makhluk misterius bukan satu-satunya sumber masalah. Manusia yang mencoba memahami sesuatu yang belum pernah mereka lihat justru menjadi bagian dari konflik.
Dengan durasi lebih dari dua setengah jam, Na Hong-jin punya ruang untuk membawa cerita dari skala desa menuju sesuatu yang lebih besar. Hope juga menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana gaya penyutradaraan Na bekerja ketika berhadapan dengan fiksi ilmiah, monster, dan produksi blockbuster.
Film ini akan hadir di bioskop Indonesia mulai 9 September 2026, termasuk format IMAX menurut materi promosi TIX ID. (bs)
Tulis Komentar